Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan Tetap Tenang
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 05/09/2026, disertai semburan merah menyala dan suara gemuruh yang menjadi perhatian masyarakat Selat Sunda.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
-
Masyarakat diminta waspada tanpa panik dan menjadikan kanal resmi pemerintah sebagai rujukan utama.
-
Pemantauan tetap diperketat karena aktivitas vulkanik, sebaran abu, kondisi laut, dan keselamatan penerbangan saling berkaitan.
-
Aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau belum menunjukkan indikasi tsunami berdasarkan evaluasi kondisi gunung saat ini.
EKSPRESPOST.COM – Seberapa luas dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap wilayah sekitar Selat Sunda?
Mengapa perhatian pemerintah kini tidak hanya tertuju pada aktivitas gunung, tetapi juga penerbangan dan kondisi laut?
Apa yang harus dilakukan masyarakat pesisir ketika informasi mengenai erupsi dan potensi tsunami beredar cepat di media sosial?
Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau Terus Dipantau Ketat
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Sabtu, (05/09/2026), sejak pukul 23.07 WIB hingga setidaknya 04.40 WIB.
Aktivitas tersebut menghasilkan suara gemuruh dan semburan merah menyala yang terlihat terus-menerus dari pemantauan gunung api.
Status Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga dengan ancaman utama berupa aliran lava dan lontaran batu pijar.
Badan Geologi Minta Masyarakat Pesisir Tetap Tenang
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan masyarakat tidak perlu panik karena evaluasi terbaru belum menunjukkan potensi keruntuhan besar.
“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil,” kata Lana Saria.
Badan Geologi tetap meminta masyarakat Banten dan Lampung mengikuti arahan BPBD serta menjauhi radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.
Sebaran Abu Vulkanik Menjadi Perhatian Penerbangan
BMKG mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap dampak erupsi Anak Krakatau terhadap atmosfer dan penerbangan di kawasan sekitarnya.
Pada Minggu, (06/09/2026), citra satelit menunjukkan dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Andri Ramdhani menyebut abu vulkanik bergerak pada ketinggian berbeda menuju sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.
BMKG Terbitkan Puluhan Peringatan untuk Keselamatan Penerbangan
Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta menerbitkan SIGMET pertama setelah erupsi awal pada Jumat, (04/09/2026), pukul 23.23 WIB.
“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.
Hingga Minggu, (06/09/2026), BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara.
Kondisi Laut Juga Perlu Dipantau Masyarakat
Prakiraan BMKG menunjukkan Selat Sunda bagian selatan Lampung menghadapi gelombang tinggi hingga sekitar tiga meter pada Minggu, (06/09/2026).
Kondisi tersebut menjadi faktor keselamatan tambahan bagi masyarakat pesisir, nelayan, serta aktivitas pelayaran di kawasan Selat Sunda.
Masyarakat disarankan mengandalkan pembaruan BMKG, PVMBG, Badan Geologi, dan pemerintah daerah daripada informasi yang belum terverifikasi.****
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.
01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…”?
Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau Terus Dipantau Ketat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Sabtu, (05/09/2026), sejak pukul 23.07 WIB hingga setidaknya 04.40 WIB.
02Siapa pihak utama yang disebut dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…”?
Badan Geologi Minta Masyarakat Pesisir Tetap Tenang Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan masyarakat tidak perlu panik karena evaluasi terbaru belum menunjukkan potensi keruntuhan besar. “Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil,” kata Lana Saria.
03Kapan peristiwa dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…” terjadi?
Pada Minggu, (06/09/2026), citra satelit menunjukkan dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
04Di mana peristiwa dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…” berlangsung?
Andri Ramdhani menyebut abu vulkanik bergerak pada ketinggian berbeda menuju sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.
05Bagaimana proses atau peristiwa dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…” berlangsung?
Hingga Minggu, (06/09/2026), BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara.
06Apa dampak yang disebutkan dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…”?
Sebaran Abu Vulkanik Menjadi Perhatian Penerbangan BMKG mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap dampak erupsi Anak Krakatau terhadap atmosfer dan penerbangan di kawasan sekitarnya.
07Angka penting apa yang disebut dalam “Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Warga Pesisir Selat Sunda Diminta Waspada Tanpa Panik dan…”?
BMKG Terbitkan Puluhan Peringatan untuk Keselamatan Penerbangan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta menerbitkan SIGMET pertama setelah erupsi awal pada Jumat, (04/09/2026), pukul 23.23 WIB. “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.
Penulis Tim EkspresPost
Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.








