Memuat tanggal... Kirim Rilis
Rabu, 14 Okt 2026
Trending
Beranda » Bisnis » Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara Global

Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara Global

  • account_circle Tim EkspresPost
  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 35
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


INFO EKSPRES
Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat.

  1. Kedelai Menjadi Salah Satu Pekerjaan Rumah Swasembada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan Indonesia masih mengandalkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional.

  2. Untuk kedelai, Zulhas menyebut Indonesia mengimpor sekitar empat juta dalam konteks kebutuhan yang disampaikannya.

  3. Pemerintah pada Juni 2026 juga telah menyiapkan subsidi kedelai Rp2.000 per kilogram untuk tahap awal sekitar 250.000 ton melalui Bulog.

  4. Ketergantungan tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah tengah mendorong swasembada pangan sebagai agenda strategis.

  5. Sementara itu, produktivitas kedelai di luar negeri dapat mencapai hingga sepuluh ton per hektare.

EKSPRESPOST.COM – Mengapa pemerintah tidak langsung mengejar swasembada kedelai meski Indonesia memiliki lahan pertanian dan pengalaman menanam komoditas tersebut?

Apa yang membuat kedelai menjadi salah satu komoditas paling sulit dilepaskan dari ketergantungan impor?

Dan apakah peningkatan produktivitas menjadi kunci agar swasembada kedelai tidak berujung pada lonjakan harga pangan?

Kedelai Menjadi Salah Satu Pekerjaan Rumah Swasembada

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan Indonesia masih mengandalkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Padahal, menurut Zulhas, Indonesia pernah berada dalam kondisi tidak perlu mengimpor kedelai.

“Kedelai itu kita pernah memang enggak impor. Saya dulu masih kecil menanam kedelai,” ujar Zulhas.

Ia mengatakan perubahan terjadi setelah negara-negara maju mengembangkan teknologi pertanian yang meningkatkan produktivitas kedelai.

Zulhas menyampaikan penjelasan tersebut dalam Peluncuran Buku Pangan Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat, (04/09/2026).

Ketergantungan tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah tengah mendorong swasembada pangan sebagai agenda strategis.

Teknologi Pertanian Menjadi Pembeda Produktivitas Kedelai

Menurut Zulhas, salah satu titik balik persaingan kedelai terjadi ketika negara maju mengembangkan rekayasa genetika.

“Kita mulai kalah setelah negara-negara maju mengembangkan apa namanya tuh rekayasa genetik,” kata Zulhas.

Ia menyebut produktivitas bibit lokal Indonesia rata-rata hanya sekitar satu ton kedelai per hektare.

Sementara itu, produktivitas kedelai di luar negeri dapat mencapai hingga sepuluh ton per hektare.

“Kita tanam kedelai di sini, dengan bibit kita itu 1 hektar, 1 ton,” ujar Zulhas.

Perbedaan produktivitas tersebut membuat produksi domestik menghadapi tekanan biaya ketika harus bersaing dengan kedelai dari luar negeri.

Pemerintah Menghindari Risiko Harga Pangan Terlalu Tinggi

Zulhas mengatakan pemerintah harus memperhitungkan kemampuan masyarakat membeli pangan ketika menentukan strategi produksi domestik.

Menurutnya, penggunaan bibit lokal dengan produktivitas rendah berpotensi membuat harga kedelai domestik tiga hingga empat kali lebih tinggi.

“Jadi kalau kita tanam kedelai kita itu, harga kita bisa 3-4 kali lipat,” ujar Zulhas.

Ia menilai kondisi tersebut tidak realistis jika membuat masyarakat kehilangan kemampuan membeli produk pangan berbahan kedelai.

“Enggak makan tempe kita kalau begitu,” imbuhnya.

Pemerintah pada Juni 2026 juga telah menyiapkan subsidi kedelai Rp2.000 per kilogram untuk tahap awal sekitar 250.000 ton melalui Bulog.

Swasembada Pangan Diprioritaskan Berdasarkan Kemampuan Produksi

Zulhas menjelaskan pemerintah memilih pendekatan bertahap untuk mengurangi ketergantungan impor pangan.

Beras dan jagung menjadi prioritas sebelum kebijakan diperluas kepada gula, garam, ikan, serta komoditas lainnya.

Strategi tersebut sejalan dengan capaian pemerintah yang sebelumnya melaporkan surplus beras serta swasembada jagung dan garam konsumsi.

Pada awal 2026, pemerintah juga menyatakan produksi pangan strategis akan terus ditingkatkan setelah target swasembada beras tercapai.

Dengan strategi bertahap, pemerintah dapat mengarahkan sumber daya kepada komoditas yang paling siap terlebih dahulu.

Ketergantungan Impor Masih Menjadi Tantangan Pemerintah

Zulhas menggambarkan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor melalui sejumlah komoditas pangan.

“Hampir semua makan kita ini impor kita ini,” kata Zulhas.

Ia menyebut impor beras Indonesia mencapai 4,5 juta ton pada 2024 dan kebutuhan daging sapi sekitar satu juta ekor per tahun.

Untuk kedelai, Zulhas menyebut Indonesia mengimpor sekitar empat juta dalam konteks kebutuhan yang disampaikannya.

Data tersebut memperlihatkan bahwa swasembada pangan membutuhkan proses panjang, bukan sekadar menghentikan impor.

Tantangan kedelai khususnya terletak pada peningkatan produktivitas, teknologi benih, efisiensi biaya, dan kemampuan menjaga harga tetap terjangkau.****

FAQ SEPUTAR ARTIKEL

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.

01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…”?

Ia mengatakan perubahan terjadi setelah negara-negara maju mengembangkan teknologi pertanian yang meningkatkan produktivitas kedelai.

02Siapa pihak utama yang disebut dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…”?

Kedelai Menjadi Salah Satu Pekerjaan Rumah Swasembada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan Indonesia masih mengandalkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional.

03Kapan peristiwa dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…” terjadi?

Zulhas menyampaikan penjelasan tersebut dalam Peluncuran Buku Pangan Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat, (04/09/2026).

04Bagaimana proses atau peristiwa dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…” berlangsung?

Pemerintah Menghindari Risiko Harga Pangan Terlalu Tinggi Zulhas mengatakan pemerintah harus memperhitungkan kemampuan masyarakat membeli pangan ketika menentukan strategi produksi domestik.

05Apa dampak yang disebutkan dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…”?

Ketergantungan tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah tengah mendorong swasembada pangan sebagai agenda strategis.

06Angka penting apa yang disebut dalam “Impor Kedelai Masih Diperlukan, Menko Zulhas Ungkap Alasan Harga Produksi Lokal Sulit Bersaing Secara…”?

Sementara itu, produktivitas kedelai di luar negeri dapat mencapai hingga sepuluh ton per hektare. "Kita tanam kedelai di sini, dengan bibit kita itu 1 hektar, 1 ton," ujar Zulhas.

FAQ disusun dari informasi yang tersedia dalam artikel.

Penulis

Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak Kasus INRU Selama 17 Tahun, Dari Dugaan Under-Invoicing Hingga Jadu Tersangka Korporasi Kejaksaan Agung

    Jejak Kasus INRU Selama 17 Tahun, Dari Dugaan Under-Invoicing Hingga Jadu Tersangka Korporasi Kejaksaan Agung

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 34
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Kejagung menetapkan PT Toba Pulp Lestari Tbk atau INRU sebagai tersangka korporasi dalam dugaan korupsi ekspor periode 2008-2025. 02 Penyidik menduga transfer pricing dan under-invoicing dilakukan melalui manipulasi transaksi pulp, dengan estimasi kerugian negara sekitar Rp2 triliun. 03 INRU menyatakan menghormati […]

  • PWI dan AFPI Perkuat Literasi Pindar, Pers Didorong Jadi Garda Terdepan Edukasi Publik Lawan Pinjol Ilegal

    PWI dan AFPI Perkuat Literasi Pindar, Pers Didorong Jadi Garda Terdepan Edukasi Publik Lawan Pinjol Ilegal

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 25
    • 0Komentar

    JAKARTA, eksprespost.com/ – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar Workshop Jurnalistik bertajuk "Pindar untuk Inklusi Keuangan, Jurnalisme Berkualitas untuk Perlindungan Masyarakat". Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat literasi keuangan digital serta meningkatkan kapasitas insan pers dalam mengedukasi masyarakat mengenai Pendanaan Daring (Pindar) yang legal dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan […]

  • Inflasi Beras Agustus 2026 Turun, Bapanas Temukan Ketidaksesuaian pada Beras Fortifikasi di Sebelas Provinsi

    Inflasi Beras Agustus 2026 Turun, Bapanas Temukan Ketidaksesuaian pada Beras Fortifikasi di Sebelas Provinsi

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 35
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Bapanas Temukan Masalah Beras Fortifikasi di Sebelas Provinsi Sejak akhir Juli, Bapanas mengungkap ketidaksesuaian pada sejumlah produk beras fortifikasi yang beredar di pasar. 02 Inflasi Beras Turun Tetapi Pengawasan Pasar Diperketat Inflasi beras tahunan Agustus 2026 turun menjadi 2,77 persen dari […]

  • Trump Ancam Hentikan Perdagangan Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Pasar Global Hadapi Ketidakpastian

    Trump Ancam Hentikan Perdagangan Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Pasar Global Hadapi Ketidakpastian

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 22
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Pasar global kini mencermati hubungan antara suku bunga, perdagangan, dan kebijakan ekonomi AS. 02 The Fed menghadapi tuntutan politik ketika harus menentukan kebijakan berdasarkan kondisi ekonomi dan inflasi. 03 Ancaman perdagangan Trump menambah dimensi baru dalam perdebatan mengenai kebijakan moneter Amerika […]

  • Bayan Resources BYAN Ungkap Dampak Material RKAB 2026 Terhadap Kelangsungan Operasional Korporasi

    Bayan Resources BYAN Ungkap Dampak Material RKAB 2026 Terhadap Kelangsungan Operasional Korporasi

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 26
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 BYAN menghadapi risiko ketidakpastian produksi ketika persetujuan perubahan RKAB 2026 belum diterbitkan pemerintah. 02 Konsekuensi RKAB dapat merambat pada kemampuan memenuhi kontrak, produksi, penjualan, serta kesinambungan operasional. 03 nvestor perlu mencermati perkembangan persetujuan RKAB dan dampaknya terhadap kegiatan usaha Bayan Resources. […]

  • PT Dua Kuda Indonesia Terhambat Beroperasi Meski Diizinkan Going Concern, Ekspor Masih Tersendat

    PT Dua Kuda Indonesia Terhambat Beroperasi Meski Diizinkan Going Concern, Ekspor Masih Tersendat

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Idris Daulat
    • visibility 77
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Selanjutnya, pada 12 Mei 2026, Hakim Pengawas memberikan izin going concern agar perusahaan tetap beroperasi sehingga aset tetap produktif, lapangan kerja… EKSPRESPOST.COM – Serikat pekerja PT Dua Kuda Indonesia menilai implementasi izin going concern yang diberikan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat belum […]

expand_less