Buya Anwar Abbas memperingatkan hilangnya kepercayaan publik terhadap bank berpotensi memicu rush money
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- visibility 27
- print Cetak

Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas, mengaitkan kepercayaan publik terhadap perbankan dengan risiko penarikan dana secara massal atau rush money. (Dok. Mui.or.id)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
EKSPRESPOST.COM – Seberapa besar dampak pemblokiran rekening seorang aktivis terhadap kepercayaan masyarakat kepada bank?
Apakah pembatasan akses finansial menjelang demonstrasi hanya persoalan administratif, atau justru menyentuh hak konstitusional warga?
Mengapa MUI sampai mengingatkan kemungkinan rush money yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional jika kepercayaan publik terus melemah?
Rekening Aktivis Diblokir, MUI Soroti Dampaknya Terhadap Publik
Wakil Ketua Umum MUI Buya Anwar Abbas menilai pemblokiran rekening aktivis menjelang aksi demonstrasi tidak boleh dipandang sebagai persoalan perbankan semata.
Menurut Anwar, tindakan tersebut berpotensi berkembang menjadi persoalan kepercayaan apabila masyarakat menilai keamanan simpanan mereka dapat terganggu karena intervensi kekuasaan.
Polemik ini mencuat setelah rekening aktivis yang menampung dana pribadi dan donasi untuk kebutuhan aksi masyarakat Pati dilaporkan diblokir Bank Mandiri.
Kepercayaan Nasabah Disebut Sebagai Fondasi Utama Dunia Perbankan
Dikutip dari laman resmi Mui.or.id, Anwar menjelaskan bahwa perbankan merupakan lembaga intermediasi yang berdiri di atas reputasi dan kepercayaan atau trust masyarakat.
Karena itu, intervensi berlebihan terhadap rekening nasabah tanpa dasar hukum jelas dinilai dapat melukai reputasi perbankan nasional.
“Memblokir rekening orang yang akan berdemonstrasi sama saja artinya dengan mencegah dan menghalangi warga negara mempergunakan haknya,” kata Buya Anwar Abbas.
Ia juga menilai penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional yang dijamin undang-undang dan tidak semestinya dihambat.
Ancaman Rush Money Dinilai Bisa Mengganggu Stabilitas Ekonomi
Anwar mengingatkan masyarakat pernah mengalami periode ketika hilangnya kepercayaan terhadap perbankan mendorong penarikan dana secara besar-besaran.
Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memicu tekanan likuiditas dan berbahaya apabila berkembang menjadi kepanikan yang meluas.
“Bila bisnis jasa perbankan kehilangan kepercayaan publik, dampaknya bisa memantik rush dan merusak masa depan dunia perbankan serta ekonomi nasional,” ujarnya.
Peringatan tersebut menempatkan kepercayaan nasabah sebagai isu utama dalam polemik pemblokiran rekening aktivis menjelang aksi demonstrasi.
Hak Demonstrasi dan Kepastian Hukum Menjadi Sorotan Utama Publik
Anwar menegaskan pembatasan akses finansial terhadap warga yang hendak berdemonstrasi dapat dianggap sebagai penghalangan terhadap penggunaan hak warga negara.
Ia menilai langkah tersebut juga berpotensi merampas hak masyarakat untuk hidup sejahtera serta bertentangan dengan amanat konstitusi.
Di sisi lain, polemik ini muncul dalam konteks rencana aksi masyarakat Pati yang akan menyampaikan aspirasi di Jakarta.
MUI Minta Aparat Menghentikan Pemblokiran Rekening Demonstran
MUI meminta pemerintah dan aparat penegak hukum tidak menggunakan pemblokiran rekening sebagai instrumen untuk menghambat warga menyampaikan aspirasi.
Anwar menilai kerusakan akibat tindakan tersebut dapat meluas dari ekonomi keluarga pemilik rekening hingga aktivitas perekonomian nasional.
“Saya menghimbau agar pihak pemerintah atau aparat jangan sampai melakukan pemblokiran terhadap rekening nasabah yang ingin unjuk rasa karena itu daya rusak cukup besar,” tegasnya.
Ia berharap penanganan terhadap aktivitas demonstrasi tetap mempertimbangkan hak konstitusional, kepastian hukum, serta kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan.**
- Penulis: Tim EkspresPost




