Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui Pemerintah
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month
- visibility 15
- print Cetak

Konglomerat Low Tuck Kwong dan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam berada di tengah perkembangan strategis Bayan Resources, mulai dari transaksi saham hingga persoalan RKAB.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
-
Investor juga mencermati dampak kuota produksi terhadap volume, kinerja keuangan, dan prospek Bayan Resources.
-
Masuknya Haji Isam mengubah struktur calon pemegang saham tanpa berarti mengambil alih mayoritas BYAN.
-
Babak baru BYAN ditentukan oleh penyelesaian CSPA dan realisasi operasional setelah persetujuan RKAB.
EKSPRESPOST.COM – Mengapa saham BYAN langsung melesat ketika Haji Isam baru menyepakati pembelian 30 persen sahamnya?
Mengapa persoalan RKAB tetap menjadi perhatian meski tiga anak usaha memasuki fase persetujuan?
Dan apakah masuknya pemegang saham baru cukup untuk menghapus tekanan produksi serta risiko yang disoroti lembaga pemeringkat?
Bayan Resources memasuki fase baru setelah PT Jhonlin Baratama sepakat mengambil 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30 persen saham beredar.
Kesepakatan tersebut ditandai penandatanganan CSPA pada Rabu, (16/09/2026), antara Jhonlin Baratama dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Namun, transaksi belum sepenuhnya selesai karena masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
Force Majeure Muncul Ketika Persetujuan RKAB Belum Terbit
Persoalan utama BYAN sebelumnya berasal dari tertundanya persetujuan perubahan RKAB 2026 bagi tiga anak usaha.
PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima kemudian menyampaikan pemberitahuan force majeure terkait kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.
Bayan menyatakan kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan memenuhi kewajiban kepada pelanggan dan memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional.
Pada Rabu, (16/09/2026), Tri Winarno menyatakan proses evaluasi perubahan RKAB masih berlangsung dan sejumlah aspek masih perlu dicermati.
“Karena kan lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi. Yang lain kan juga sudah kelar,” kata Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM.
Perkembangan sesudahnya menunjukkan perubahan RKAB tiga anak usaha tersebut dilaporkan memperoleh persetujuan, sehingga persoalan produksi memasuki fase berbeda.
Moody’s Tetap Soroti Ketidakpastian Kuota Produksi BYAN
Di tengah kabar positif tersebut, Moody’s justru mengubah outlook BYAN menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Moody’s tetap mempertahankan Corporate Family Rating BYAN pada Ba1, tetapi menyoroti ketidakpastian regulasi mengenai alokasi kuota produksi.
Anthony Prayugo dari Moody’s menyebut ketidakpastian kuota dapat membatasi produksi dan menekan laba apabila tidak segera terselesaikan.
Dalam laporan Moody’s yang dikutip media, kondisi tersebut berkaitan dengan keputusan Bayan menyatakan force majeure akibat persoalan persetujuan kuota RKAB.
Situasi itu menunjukkan bahwa masuknya investor strategis dan penyelesaian administrasi RKAB belum otomatis menghapus seluruh perhatian terhadap kinerja operasional.
Masuknya Haji Isam Mengubah Konstelasi Pemegang Saham BYAN
Kesepakatan tersebut menempatkan Jhonlin Baratama sebagai calon pemegang sekitar 30 persen saham BYAN setelah seluruh persyaratan transaksi terpenuhi.
Porsi itu berbeda dari spekulasi sebelumnya yang menyebut Haji Isam berpotensi mengambil sekitar 62,25 persen saham BYAN.
Media mencatat spekulasi tersebut sebelumnya mengarah pada sekitar 20,79 miliar saham, sedangkan transaksi aktual mencakup 10.000.000.500 saham.
Direktur BYAN Jenny Quantero menegaskan penyelesaian transaksi tetap bergantung pada pemenuhan kondisi pendahuluan.
“Setelah penyelesaian transaksi, dan terpenuhinya atau seluruh syarat pendahuluan, PT Jhonlin Baratama akan memiliki 10 miliar saham biasa perseroan,” ujar Jenny Quantero.
Besaran nilai transaksi tidak diungkapkan dalam laporan tersebut, sehingga estimasi sekitar Rp114,5 triliun berdasarkan harga BYAN Rp11.450 bukan merupakan nilai pembelian resmi.
Saham Melonjak, Tetapi Investor Masih Menghadapi Dua Sinyal
Saham BYAN melonjak 19,96 persen menjadi Rp13.825 pada Jumat, (18/09/2026), dan mencapai ARA.
Pergerakan tersebut muncul setelah kesepakatan Jhonlin Baratama sekaligus perkembangan persetujuan RKAB menjadi perhatian utama pasar.
Namun, pada hari yang sama, perubahan outlook Moody’s menjadi negatif memberikan sinyal berbeda mengenai risiko produksi dan ketidakpastian regulasi.
Jenny Quantero menyatakan transaksi tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha.
“Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan,” ujar Jenny Quantero.
Dengan demikian, babak baru BYAN tidak hanya ditentukan oleh perubahan pemegang saham, tetapi juga oleh realisasi produksi setelah RKAB disetujui.
Fokus berikutnya berada pada penyelesaian CSPA, pelaksanaan kuota produksi, pemulihan kewajiban pasokan, dan kemampuan Bayan mempertahankan kinerja operasionalnya.****
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.
01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…”?
PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima kemudian menyampaikan pemberitahuan force majeure terkait kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.
02Siapa pihak utama yang disebut dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…”?
Yang lain kan juga sudah kelar,” kata Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM.
03Kapan peristiwa dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…” terjadi?
Kesepakatan tersebut ditandai penandatanganan CSPA pada Rabu, (16/09/2026), antara Jhonlin Baratama dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
04Mengapa perkembangan dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…” terjadi?
Namun, transaksi belum sepenuhnya selesai karena masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
05Bagaimana proses atau peristiwa dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…” berlangsung?
Pada Rabu, (16/09/2026), Tri Winarno menyatakan proses evaluasi perubahan RKAB masih berlangsung dan sejumlah aspek masih perlu dicermati. "Karena kan lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi.
06Apa dampak yang disebutkan dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…”?
Bayan menyatakan kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan memenuhi kewajiban kepada pelanggan dan memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional.
07Angka penting apa yang disebut dalam “Haji Isam Masuk Bayan Resources, Saham BYAN Tembus ARA, RKAB Tiga Anak Usaha Disetujui…”?
Bayan Resources memasuki fase baru setelah PT Jhonlin Baratama sepakat mengambil 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30 persen saham beredar.
Penulis Tim EkspresPost
Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.
