Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- visibility 24
- print Cetak

Maskapai penerbangan AirAsia menghadapi tekanan harga avtur dan rugi kuartal II 2026, namun Tony Fernandes menyebut likuiditas korporasi tetap di atas RM1 miliar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
-
Tantangan utama AirAsia mencakup harga avtur, biaya operasional, pengelolaan utang, serta pemulihan kapasitas penerbangan.
-
Permintaan kuartal III dan pemesanan kuartal IV menjadi indikator penting bagi kinerja AirAsia hingga akhir 2026.
-
Kondisi AirAsia saat ini berbeda dengan pandemi karena pembatasan perjalanan tidak lagi menghentikan operasi penerbangan.
EKSPRESPOST.COM – Apakah penumpang masih mau terbang ketika harga tiket AirAsia naik hingga 25 persen dibandingkan 2019?
Mengapa tingkat keterisian kursi tetap mencapai 80 persen ketika harga avtur menekan biaya operasional?
Dan apakah permintaan kuat itu cukup untuk membantu AirAsia melewati tekanan keuangan 2026?
Permintaan penerbangan AirAsia masih menunjukkan ketahanan meski harga tiket meningkat dan biaya bahan bakar melonjak.
Co-founder dan Penasihat AirAsia Group, Tan Sri Tony Fernandes, mengatakan load factor AirAsia mencapai sedikitnya 80 persen pada kuartal III.
Pemesanan kuartal IV juga menunjukkan tren kuat, memberikan ruang bagi korporasi untuk meningkatkan kembali kapasitas penerbangan.
Kenaikan Harga Tiket Belum Mengubah Permintaan Penumpang AirAsia
Fernandes mengatakan harga tiket AirAsia sekarang meningkat sekitar 20–25 persen dibandingkan 2019.
Namun, menurut Fernandes, kenaikan tersebut belum berdampak signifikan terhadap permintaan penerbangan.
“Permintaan tidak berubah, dan itu merupakan hal yang baik. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih ingin bepergian dengan pesawat meskipun tarif penerbangan naik 20 hingga 25 persen,” kata Tony Fernandes.
AirAsia menargetkan tingkat keterisian kursi meningkat dari sekitar 80 persen menuju 90 persen.
Fernandes juga mengatakan operasi AirAsia Malaysia menjadi bisnis terbesar dan terkuat grup, dengan pangsa pasar sekitar 60 persen.
Harga Avtur Menekan Margin Dan Memaksa Strategi Tarif
Pada kuartal II, rata-rata harga bahan bakar jet AirAsia mencapai Dolar AS183 per barel.
Kenaikan tersebut menyebabkan biaya bahan bakar meningkat 58 persen secara tahunan dan berkontribusi terhadap rugi bersih RM830,5 juta.
AirAsia berhasil memulihkan sekitar 70 persen kenaikan biaya bahan bakar melalui penyesuaian tarif dinamis dan pengurangan biaya operasional nonbahan bakar.
Korporasi juga memperluas strategi lindung nilai bahan bakar untuk menghadapi volatilitas harga energi global.
Harga Bahan Bakar Dolar AS250 Bisa Memicu Penyesuaian Tarif
Fernandes memperkirakan harga bahan bakar jet berada pada kisaran Dolar AS160–190 per barel.
AirAsia telah menyesuaikan tarif dengan mempertimbangkan harga bahan bakar hingga sekitar Dolar AS180 per barel.
Jika harga meningkat hingga Dolar AS250 per barel, Fernandes mengatakan korporasi dapat kembali melakukan penyesuaian tarif penerbangan.
“Tentu saja, jika harganya naik hingga Dolar AS250 per barel, saya harus melakukan penyesuaian harga lagi,” ujar Tony Fernandes.
Kapasitas Dipangkas, Armada Lama Dikembalikan untuk Efisiensi
AirAsia memangkas kapasitas kuartal III sekitar 20–25 persen secara tahunan untuk menyesuaikan operasi dengan kondisi pasar.
Korporasi juga mengembalikan 25 pesawat lama yang kurang efisien bahan bakar kepada pemberi sewa.
AirAsia kemudian berencana memulihkan kapasitas pada kuartal IV ketika permintaan perjalanan akhir tahun meningkat.
Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan penundaan rute yang kurang menguntungkan dan pengurangan alokasi armada pada sejumlah pasar.****
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.
01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan”?
Permintaan penerbangan AirAsia masih menunjukkan ketahanan meski harga tiket meningkat dan biaya bahan bakar melonjak.
02Siapa pihak utama yang disebut dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan”?
Co-founder dan Penasihat AirAsia Group, Tan Sri Tony Fernandes, mengatakan load factor AirAsia mencapai sedikitnya 80 persen pada kuartal III.
03Kapan peristiwa dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan” terjadi?
AirAsia kemudian berencana memulihkan kapasitas pada kuartal IV ketika permintaan perjalanan akhir tahun meningkat.
04Mengapa perkembangan dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan” terjadi?
Pemesanan kuartal IV juga menunjukkan tren kuat, memberikan ruang bagi korporasi untuk meningkatkan kembali kapasitas penerbangan.
05Bagaimana proses atau peristiwa dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan” berlangsung?
Harga Avtur Menekan Margin Dan Memaksa Strategi Tarif Pada kuartal II, rata-rata harga bahan bakar jet AirAsia mencapai Dolar AS183 per barel.
06Angka penting apa yang disebut dalam “Tony Fernandes Ungkap Kondisi Terbaru AirAsia: Avtur Mahal, Utang Tinggi, Namun Permintaan Tetap Bertahan”?
Kenaikan Harga Tiket Belum Mengubah Permintaan Penumpang AirAsia Fernandes mengatakan harga tiket AirAsia sekarang meningkat sekitar 20–25 persen dibandingkan 2019.
Penulis Tim EkspresPost
Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.
