Memuat tanggal... Kirim Rilis
Headline
Trending
Beranda » Bisnis » Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing Pangan Nasional

Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing Pangan Nasional

  • account_circle Tim EkspresPost
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 5
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


INFO EKSPRES
Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat.

  1. Pemerintah menempatkan persoalan biaya pangan dalam konteks lebih luas, termasuk daya saing, ekonomi, dan ketahanan negara.

  2. Biaya produksi Thailand dan Vietnam disebut sekitar Rp3.800 per kilogram, menciptakan kesenjangan yang menjadi perhatian pemerintah.

  3. Menko Pangan Zulkifli Hasan menyebut biaya produksi beras Indonesia sekitar Rp12.000 per kilogram dalam acara Book Lunch Pangan Indonesia.

EKSPRESPOST.COM – Mengapa ongkos menghasilkan beras di Indonesia disebut mencapai Rp12.000 per kilogram?

Apa yang membuat Thailand dan Vietnam mampu menghasilkan beras dengan biaya sekitar Rp3.800?

Dan apakah teknologi pertanian dapat menjadi jalan keluar untuk mengejar ketertinggalan tersebut?

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti persoalan efisiensi produksi beras Indonesia yang dinilai masih tertinggal dari Thailand dan Vietnam.

Dalam Book Lunch Pangan Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat, (04/09/2026), Zulhas menyebut biaya produksi satu kilogram beras Indonesia sekitar Rp12.000.

Sebaliknya, biaya produksi satu kilogram beras di Thailand dan Vietnam disebut hanya sekitar Rp3.800.

“Kalau biaya produksi kita jauh lebih tinggi, kita akan terus tertinggal,” ujar Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia.

Teknologi Dan Varietas Menjadi Kunci Menekan Ongkos Produksi Pertanian Nasional

Menurut Zulhas, kesenjangan biaya produksi dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk teknologi, varietas baru, dan manajemen pengolahan lahan sawah.

Faktor tersebut menunjukkan peningkatan produksi tidak hanya membutuhkan perluasan kapasitas, tetapi juga efisiensi setiap tahapan pertanian.

Dengan biaya lebih rendah, sektor pertanian memiliki peluang memperkuat daya saing tanpa mengabaikan keberlanjutan pendapatan petani.

Biaya Produksi Beras Indonesia Tiga Kali Lipat Menjadi Tantangan Daya Saing

Perbandingan Rp12.000 dengan Rp3.800 menunjukkan biaya produksi Indonesia lebih dari tiga kali lipat dibandingkan angka yang disebut Zulhas.

Kesenjangan tersebut menjadi persoalan strategis karena beras merupakan komoditas utama dalam sistem pangan nasional.

Zulhas menilai persoalan pangan harus dipahami lebih luas karena menyangkut ekonomi sekaligus ketahanan negara.

Produksi Beras Meningkat Namun Efisiensi Tetap Menjadi Pekerjaan Rumah Pemerintah

BPS mencatat produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan 2024.

Pada Januari-Juni 2026, produksi beras diperkirakan 19,31 juta ton atau meningkat 0,26 persen secara tahunan.

Kenaikan produksi tersebut menjadi modal penting, namun tantangan efisiensi tetap perlu diperhatikan untuk memperkuat daya saing sektor pertanian.

Kemandirian Pangan Tak Cukup Hanya Mengandalkan Ketersediaan Beras Nasional Semata

Pemerintah sebelumnya menetapkan HPP GKP Rp6.500 per kilogram sebagai bagian dari upaya menjaga insentif produksi petani.

Kebijakan harga tersebut berjalan berdampingan dengan kebutuhan meningkatkan produktivitas dan efisiensi agar produksi pangan semakin kompetitif.

“Tidak ada negara yang maju tetapi pangannya terus bergantung kepada negara lain,” tegas Zulkifli Hasan.****

 

FAQ SEPUTAR ARTIKEL

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.

01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…”?

Kemandirian Pangan Tak Cukup Hanya Mengandalkan Ketersediaan Beras Nasional Semata Pemerintah sebelumnya menetapkan HPP GKP Rp6.500 per kilogram sebagai bagian dari upaya menjaga insentif produksi petani.

02Siapa pihak utama yang disebut dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…”?

Sebaliknya, biaya produksi satu kilogram beras di Thailand dan Vietnam disebut hanya sekitar Rp3.800. "Kalau biaya produksi kita jauh lebih tinggi, kita akan terus tertinggal," ujar Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia.

03Kapan peristiwa dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…” terjadi?

Dalam Book Lunch Pangan Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat, (04/09/2026), Zulhas menyebut biaya produksi satu kilogram beras Indonesia sekitar Rp12.000.

04Mengapa perkembangan dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…” terjadi?

Kesenjangan tersebut menjadi persoalan strategis karena beras merupakan komoditas utama dalam sistem pangan nasional.

05Bagaimana proses atau peristiwa dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…” berlangsung?

Faktor tersebut menunjukkan peningkatan produksi tidak hanya membutuhkan perluasan kapasitas, tetapi juga efisiensi setiap tahapan pertanian.

06Apa dampak yang disebutkan dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…”?

Dengan biaya lebih rendah, sektor pertanian memiliki peluang memperkuat daya saing tanpa mengabaikan keberlanjutan pendapatan petani.

07Angka penting apa yang disebut dalam “Menko Pangan Zulhas Sebut Biaya Produksi Beras Indonesia Tertinggal, Efisiensi Jadi Kunci Daya Saing…”?

Biaya Produksi Beras Indonesia Tiga Kali Lipat Menjadi Tantangan Daya Saing Perbandingan Rp12.000 dengan Rp3.800 menunjukkan biaya produksi Indonesia lebih dari tiga kali lipat dibandingkan angka yang disebut Zulhas.

FAQ disusun dari informasi yang tersedia dalam artikel.

Penulis

Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less