Perang Iran Berdampak ke Asia, AS Batalkan Latihan Militer Ssangyong Bersama Korea Selatan
- account_circle Idris Daulat
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tentara Angkatan Darat AS berbaris saat latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat di Paju, Korea Selatan, Jumat, 13 Januari 2023. (Foto: AP)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Amerika Serikat membatalkan latihan pendaratan amfibi Ssangyong bersama Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung September 2026. Keterbatasan pasukan akibat perang dengan Iran disebut menjadi salah satu faktor utama.
SEOUL — Dampak perang Amerika Serikat dengan Iran mulai terasa hingga Semenanjung Korea. Washington membatalkan latihan militer gabungan berskala besar bersama Korea Selatan yang sedianya digelar pada September 2026.
Latihan tersebut dikenal dengan nama Ssangyong, atau “Double Dragon”, sebuah latihan pendaratan amfibi yang melibatkan Korps Marinir Amerika Serikat dan Korea Selatan. Dalam latihan ini, kedua negara biasanya menguji kemampuan operasi gabungan menggunakan kapal perang, pesawat, kendaraan tempur, serta pasukan darat.
Korps Marinir Korea Selatan mengungkapkan bahwa pihak Amerika Serikat telah menyampaikan sejak Juni bahwa ketersediaan pasukan mereka untuk latihan tingkat divisi tersebut mengalami keterbatasan.
Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya kebutuhan militer Washington terkait perang dengan Iran.
Perang Iran Mulai Memengaruhi Postur Militer AS di Asia
Pembatalan Ssangyong menjadi sinyal bahwa konflik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak terhadap kawasan tersebut.
Kebutuhan pengerahan pasukan, sistem pertahanan, kapal perang, hingga sumber daya militer Amerika Serikat ikut memengaruhi kemampuan Washington mempertahankan jadwal latihan militernya bersama negara sekutu di Asia.
Menurut laporan Reuters, Korps Marinir Amerika Serikat secara resmi memberi tahu pihak Korea Selatan bahwa ketersediaan kekuatan mereka akan terbatas untuk mengikuti latihan Ssangyong. Seoul dan Washington disebut masih melakukan konsultasi mengenai kemungkinan melanjutkan latihan tersebut pada waktu berikutnya.
Pembatalan itu menjadi penting karena latihan Ssangyong merupakan salah satu bentuk kerja sama pertahanan strategis antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan kedua negara dalam menjalankan operasi pendaratan amfibi dan merespons skenario konflik di Semenanjung Korea.
Bukan Latihan Pertama yang Dikurangi
Keputusan terbaru ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan juga memangkas latihan tahunan Ulchi Freedom Shield 2026.
Awalnya, latihan Ulchi Freedom Shield dijadwalkan berlangsung selama 11 hari, mulai 17 hingga 27 Agustus 2026.
Namun, latihan itu kemudian dipersingkat menjadi lima hari dan berakhir pada 21 Agustus 2026.
Ulchi Freedom Shield merupakan salah satu latihan militer gabungan terbesar Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Latihan tersebut menggunakan berbagai skenario ancaman modern, termasuk serangan drone, gangguan GPS, serangan siber, serta operasi lintas domain.
Sekitar 18 ribu tentara Korea Selatan sebelumnya dijadwalkan terlibat dalam latihan tahun ini. Sejumlah personel dari negara anggota United Nations Command juga ikut berpartisipasi.
Trump Ingin Kurangi Ketegangan dengan Korea Utara
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memerintahkan pengurangan skala Ulchi Freedom Shield.
Trump mempertanyakan biaya latihan tersebut dan menilai aktivitas militer itu dapat mengirimkan pesan yang dianggap terlalu bermusuhan kepada Korea Utara.
Keputusan tersebut juga muncul ketika Trump kembali memperlihatkan keinginannya membuka komunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Trump dan Kim pernah bertemu tiga kali pada masa jabatan pertama Trump.
Kini, kemungkinan pertemuan baru kembali menjadi perhatian karena Washington terlihat mencoba membuka ruang diplomasi dengan Pyongyang di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dari berbagai kawasan.
Korea Utara Tetap Luncurkan Rudal
Meski Amerika Serikat mengurangi latihan militernya bersama Korea Selatan, Pyongyang belum menunjukkan perubahan besar dalam sikap militernya.
Korea Utara dilaporkan menembakkan 10 rudal balistik jarak pendek pada pekan lalu.
Pyongyang juga kembali mengecam latihan militer Amerika Serikat-Korea Selatan yang selama ini mereka anggap sebagai simulasi persiapan invasi terhadap Korea Utara.
Respons tersebut memperlihatkan bahwa pengurangan latihan militer belum otomatis menghasilkan perubahan sikap dari pemerintahan Kim Jong Un.
Korea Utara selama bertahun-tahun menuntut penghentian latihan gabungan AS-Korea Selatan sebagai salah satu syarat untuk menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Hubungan Washington-Seoul Ikut Diuji
Perubahan jadwal latihan militer turut menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan pertahanan Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Washington selama beberapa dekade menjadi sekutu pertahanan utama Seoul.
Puluhan ribu tentara Amerika Serikat ditempatkan di Korea Selatan sebagai bagian dari strategi pencegahan terhadap ancaman dari Korea Utara.
Namun, meningkatnya kebutuhan militer AS di Timur Tengah membuat pembagian sumber daya pertahanan Washington menjadi semakin kompleks.
Situasi tersebut berpotensi memaksa Amerika Serikat menentukan prioritas antara mempertahankan kehadiran militernya di kawasan Indo-Pasifik dan memenuhi kebutuhan operasi di Timur Tengah.
Seoul dan Washington sejauh ini tetap menegaskan pentingnya koordinasi pertahanan kedua negara.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga melakukan komunikasi pada 24 Agustus 2026 dan menegaskan kembali pentingnya kerja sama menghadapi ancaman nuklir Korea Utara.
Strategi Pertahanan Korea Selatan Jadi Sorotan
Perubahan kebijakan Washington juga muncul ketika Korea Selatan sedang mendorong peningkatan kemandirian dalam sistem pertahanannya.
Pemerintah Seoul tengah mempercepat proses pengambilalihan wartime operational control atau OPCON, yaitu kewenangan komando operasional militer pada masa perang yang selama ini menjadi bagian penting dari struktur aliansi dengan Amerika Serikat.
Latihan Ulchi Freedom Shield 2026 sebelumnya juga dipandang sebagai bagian dari persiapan menuju proses tersebut.
Jika pengurangan keterlibatan militer Amerika Serikat berlanjut, perdebatan mengenai kemampuan Korea Selatan mempertahankan keamanan nasionalnya secara lebih mandiri diperkirakan akan semakin menguat.
Konflik Timur Tengah Kini Menjangkau Indo-Pasifik
Pembatalan latihan Ssangyong memperlihatkan bagaimana konflik di satu kawasan dapat memengaruhi strategi keamanan di kawasan lain.
Amerika Serikat memiliki komitmen pertahanan yang luas, mulai dari Eropa, Timur Tengah hingga Indo-Pasifik.
Ketika kebutuhan militer meningkat secara bersamaan, Washington harus membagi pasukan, kapal perang, sistem pertahanan udara dan dukungan logistik di antara berbagai wilayah.
Bagi Korea Selatan, situasi ini menjadi ujian terhadap seberapa jauh aliansi dengan Amerika Serikat tetap mampu mempertahankan kesiapan militer ketika Washington menghadapi tekanan dari beberapa konflik sekaligus.
Sementara bagi kawasan Asia Timur, keputusan Amerika Serikat mengurangi latihan militer dapat membuka dua kemungkinan sekaligus: peluang diplomasi baru dengan Korea Utara atau munculnya kekhawatiran bahwa daya tangkal militer sekutu menjadi berkurang.
Untuk saat ini, Washington dan Seoul menyatakan tetap berkoordinasi mengenai kelanjutan latihan gabungan mereka.
Namun, pembatalan Ssangyong menunjukkan bahwa perang Iran kini bukan lagi sekadar persoalan Timur Tengah. Efeknya mulai terasa hingga arsitektur keamanan Indo-Pasifik.
- Penulis: Idris Daulat




