Dino Patti Djalal Kritik Absennya Delegasi Resmi Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei
- account_circle A. Chandra S.
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Seorang pria menghadiri upacara penghormatan bagi mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 4 Juli 2026. (Xinhua/Shadati)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Telegraf — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengkritik keras keputusan Pemerintah Indonesia yang tidak mengirimkan delegasi resmi ke upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran.
Dino menilai absennya perwakilan tingkat pemerintah dapat memicu pertanyaan mengenai konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Menurutnya, langkah ini juga berisiko memperlihatkan bahwa diplomasi Indonesia mulai dipengaruhi oleh rasa sungkan atau takut terhadap negara lain, seperti Amerika Serikat.
“Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran untuk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yang terbunuh dalam serangan militer ilegal,” kata Dino melalui unggahan di media sosial miliknya, Minggu (05/07/2026).
Dino mengeklaim bahwa Pemerintah Iran telah berupaya gigih mengundang Indonesia secara resmi, namun tidak mendapat tanggapan memadai dari Jakarta. Ia menyayangkan karena akhirnya Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, hanya diwakili oleh Duta Besar RI di Teheran, sebuah langkah yang dinilai kurang menghormati hubungan bilateral kedua negara.
Padahal, Dino mencatat sejumlah negara lain seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, China, India, Malaysia, hingga Bangladesh tetap mengirimkan delegasi resmi mereka. Bahkan, Pakistan mengutus langsung presidennya ke acara tersebut.
Sebagai solusi minimal, Dino berpendapat pemerintah setidaknya bisa mengirimkan pejabat setingkat wakil menteri luar negeri sebagai bentuk penghormatan. Ia menduga masalah ini muncul karena adanya kendala dalam tata kelola pengambilan keputusan internal pemerintah, bukan semata-mata karena pertimbangan politik luar negeri yang strategis.
“Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan,” tegasnya.
Sebelumnya, pihak Kementerian Luar Negeri RI melalui Juru Bicara Yvonne Mewengkang telah menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam upacara penghormatan tersebut secara resmi diwakili oleh Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat.
Yvonne menjelaskan bahwa Dubes RI telah menghadiri acara penghormatan dan doa bersama di Grand Mosalla Teheran pada Sabtu (04/07/2026) pagi waktu setempat. Atas nama pemerintah, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Iran atas undangan yang telah diberikan kepada Indonesia.
- Penulis: A. Chandra S.




