Memuat tanggal... Kirim Rilis
Selasa, 6 Okt 2026
Trending
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Ekonomi » BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh

BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh

  • account_circle Tim EkspresPost
  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 18
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


INFO EKSPRES
Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat.

  1. Garis kemiskinan nasional BPS mencapai Rp669.235 per kapita per bulan pada Maret 2026.

  2. Garis kemiskinan makanan tercatat Rp499.886, sedangkan komponen bukan makanan sebesar Rp169.349 per kapita.

  3. BPS menggunakan data Susenas untuk mengukur pengeluaran dan pola konsumsi rumah tangga masyarakat Indonesia.

EKSPRESPOST.COM – Benarkah 64,2 persen penduduk Indonesia tergolong miskin?

Mengapa angka tersebut jauh melampaui catatan BPS sebesar 8,07 persen?

Jika sama-sama membahas kemiskinan Indonesia, bagaimana publik harus membaca kedua angka tersebut?

Jawabannya terletak pada garis kemiskinan yang digunakan, bukan sekadar jumlah penduduk yang dihitung.

Angka 64,2 Persen Merupakan Proyeksi dengan Standar Internasional

Bank Dunia memperkirakan 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan US$8,30 per kapita per hari pada 2026.

Angka tersebut tercantum dalam Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dan merupakan proyeksi, bukan statistik nasional BPS.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Nashrul Wajdi menjelaskan bahwa standar tersebut berasal dari Bank Dunia.

“Nilainya ditetapkan berdasarkan standar kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara dalam kelompok pendapatan menengah atas,” ujar Nashrul.

Standar itu terutama digunakan untuk membandingkan kondisi antarnegara sehingga cakupan penduduk yang berada di bawah ambang tersebut dapat lebih besar.

Garis Kemiskinan Bank Dunia Berbeda dengan Standar Nasional

Bank Dunia menggunakan US$8,30 berdasarkan PPP 2021 untuk negara berpendapatan menengah atas.

Selain garis tersebut, Bank Dunia menggunakan US$3 per kapita per hari untuk kemiskinan ekstrem dan US$4,20 bagi negara berpendapatan menengah bawah.

PPP membuat nilai tersebut berbeda dari hasil penghitungan menggunakan kurs rupiah terhadap Dolar AS secara langsung.

Konsep tersebut memperhitungkan perbedaan daya beli sehingga standar yang digunakan dapat diterapkan dalam perbandingan lintas negara.

Data Bank Dunia sendiri menggunakan data survei rumah tangga dari lembaga statistik pemerintah dan departemen Bank Dunia.

BPS Hitung Kemiskinan Berdasarkan Kebutuhan Dasar

Berbeda dari Bank Dunia, BPS menggunakan pendekatan Cost of Basic Needs dalam mengukur kemiskinan nasional.

Pendekatan tersebut menghitung kebutuhan minimum makanan dan nonmakanan berdasarkan kondisi masyarakat Indonesia.

Kebutuhan makanan mengacu pada konsumsi minimal 2.100 kilokalori per orang per hari berdasarkan pola konsumsi rumah tangga.

Kebutuhan nonmakanan mencakup tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, pakaian, dan transportasi.

BPS menggunakan Susenas untuk memperoleh data pengeluaran serta pola konsumsi masyarakat dalam menghitung garis kemiskinan.

Pengukuran dilakukan dua kali setahun sehingga perubahan kebutuhan dan kondisi ekonomi masyarakat dapat tercermin dalam statistik nasional.

BPS Catat 22,93 Juta Penduduk Miskin pada Maret 2026

BPS mencatat tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.

Jumlah tersebut turun 0,43 juta orang dibanding September 2025 dan berkurang 0,92 juta orang dibanding Maret 2025.

Garis kemiskinan nasional tercatat Rp669.235 per kapita per bulan pada periode tersebut.

Rata-rata garis kemiskinan rumah tangga secara nasional mencapai Rp3.091.866 per bulan berdasarkan penjelasan BPS yang dikutip detikFinance.

Perbedaan kebutuhan masyarakat antarprovinsi serta kabupaten/kota juga diperhitungkan melalui tingkat harga dan pola konsumsi.

Karena itu, garis kemiskinan nasional tidak berupa satu standar global yang diterapkan seragam kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Bank Dunia Akui Statistik Nasional Relevan untuk Kebijakan Domestik

Bank Dunia menyatakan garis kemiskinan nasional tetap relevan untuk menilai kemiskinan dalam konteks kebijakan suatu negara.

BPS juga menegaskan angka 64,2 persen tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti angka kemiskinan nasional Indonesia.

Dengan demikian, penyebutan angka 64,2 persen tanpa konteks berisiko menimbulkan persepsi bahwa pemerintah mencatat mayoritas penduduk Indonesia sebagai warga miskin.

Padahal, angka tersebut menunjukkan proporsi penduduk yang berada di bawah standar internasional US$8,30 berbasis PPP 2021.

Sementara itu, angka 8,07 persen menunjukkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan nasional berdasarkan metode BPS.

Kedua statistik tersebut dapat digunakan bersamaan selama pembaca memahami standar dan tujuan pengukurannya.**.**

FAQ SEPUTAR ARTIKEL

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.

01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh”?

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Nashrul Wajdi menjelaskan bahwa standar tersebut berasal dari Bank Dunia. “Nilainya ditetapkan berdasarkan standar kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara dalam kelompok pendapatan menengah atas,” ujar Nashrul.

02Siapa pihak utama yang disebut dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh”?

Data Bank Dunia sendiri menggunakan data survei rumah tangga dari lembaga statistik pemerintah dan departemen Bank Dunia.

03Kapan peristiwa dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh” terjadi?

Angka tersebut tercantum dalam Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dan merupakan proyeksi, bukan statistik nasional BPS.

04Di mana peristiwa dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh” berlangsung?

Perbedaan kebutuhan masyarakat antarprovinsi serta kabupaten/kota juga diperhitungkan melalui tingkat harga dan pola konsumsi.

05Mengapa perkembangan dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh” terjadi?

Karena itu, garis kemiskinan nasional tidak berupa satu standar global yang diterapkan seragam kepada seluruh masyarakat Indonesia.

06Bagaimana proses atau peristiwa dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh” berlangsung?

Garis Kemiskinan Bank Dunia Berbeda dengan Standar Nasional Bank Dunia menggunakan US$8,30 berdasarkan PPP 2021 untuk negara berpendapatan menengah atas.

07Apa dampak yang disebutkan dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh”?

PPP membuat nilai tersebut berbeda dari hasil penghitungan menggunakan kurs rupiah terhadap Dolar AS secara langsung.

08Angka penting apa yang disebut dalam “BPS Ungkap Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Versi Bank Dunia Mencapai 64,2 Persen, Berbeda Jauh”?

Angka 64,2 Persen Merupakan Proyeksi dengan Standar Internasional Bank Dunia memperkirakan 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan US$8,30 per kapita per hari pada 2026.

FAQ disusun dari informasi yang tersedia dalam artikel.

Penulis

Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maudy Ayunda Bicara Kesehatan Mental dan Berita Buruk, Kritik Netizen Memunculkan Isu Privilege di Masyarakat

    Maudy Ayunda Bicara Kesehatan Mental dan Berita Buruk, Kritik Netizen Memunculkan Isu Privilege di Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 25
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Kontroversi kini menjadi refleksi mengenai cara membahas kesehatan mental tanpa mengabaikan pengalaman kelompok yang terdampak. 02 Ia mengatakan kritik tersebut didengar dan dihargai sebagai masukan untuk memahami persoalan dari perspektif yang lebih dalam. 03 Maudy Ayunda mengakhiri klarifikasinya dengan mengapresiasi publik […]

  • Prabowo Buka Muktamar Ke-35 NU, Tokoh Nasional hingga Pimpinan Ormas Hadir di Jombang

    Prabowo Buka Muktamar Ke-35 NU, Tokoh Nasional hingga Pimpinan Ormas Hadir di Jombang

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Idris Daulat
    • visibility 67
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). 02 Dalam prosesi pembukaan, Prabowo didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Rais Aam Pengurus […]

  • Bahlil Lahadalia Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia dengan Dukungan Energi dan Listrik Kompetitif

    Bahlil Lahadalia Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia dengan Dukungan Energi dan Listrik Kompetitif

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 17
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Pemerintah menyatakan akan memberikan kemudahan bagi investor yang mengembangkan data center di Indonesia. 02 Bahlil menyebut kebutuhan energi data center meningkat bersamaan dengan kebutuhan energi terbarukan. 03 Indonesia menawarkan kombinasi wilayah luas, sumber energi beragam, dan harga listrik kompetitif untuk investasi […]

  • Hampir Satu Ton Merkuri Ilegal Disita Polres Bogor, Empat Tersangka Terancam Denda Rp10 Miliar

    Hampir Satu Ton Merkuri Ilegal Disita Polres Bogor, Empat Tersangka Terancam Denda Rp10 Miliar

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 32
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Polres Bogor mengamankan hampir satu ton merkuri ilegal yang diduga menjadi pasokan pengolahan emas tanpa izin. 02 Total barang bukti mencapai 998,825 kilogram dengan estimasi nilai sekitar Rp2,9 miliar. 03 Penyelidikan masih berlangsung guna mengungkap tujuan pasokan dan jaringan perdagangan merkuri […]

  • KPK Periksa 17 Orang dalam OTT BPN Bogor, Adrianto Pitojo Terjaring dan Uang Ratusan Miliar Jadi Barang Bukti

    KPK Periksa 17 Orang dalam OTT BPN Bogor, Adrianto Pitojo Terjaring dan Uang Ratusan Miliar Jadi Barang Bukti

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 25
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 KPK membenarkan Adrianto Pitojo termasuk 17 orang yang diamankan dalam OTT di lingkungan ATR/BPN. 02 Perkara yang didalami KPK berkaitan dengan dugaan korupsi dalam proses pengurusan Hak Guna Bangunan di Bogor. 03 Status para pihak masih dalam pemeriksaan dan KPK belum […]

  • Danantara Jadi Instrumen Prabowonomics, The Telegraph Soroti Restrukturisasi BUMN dan Strategi Hilirisasi

    Danantara Jadi Instrumen Prabowonomics, The Telegraph Soroti Restrukturisasi BUMN dan Strategi Hilirisasi

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Tim EkspresPost
    • visibility 24
    • 0Komentar

    INFO EKSPRES Ringkasan inti berita untuk membantu pembaca memahami fakta terpenting dengan cepat. 01 Ibrahimov menilai keberhasilan kebijakan membutuhkan keberanian mengambil risiko serta menghadapi pilihan pembangunan yang sulit. 02 Perdebatan Danantara mencakup dua sisi, yaitu kebutuhan efisiensi sekaligus pentingnya transparansi dan tata kelola. 03 The Telegraph menilai hasil restrukturisasi Danantara belum dapat ditentukan karena eksperimen […]

expand_less