BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang Dini Hari
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month
- visibility 17
- print Cetak

BMKG Stasiun Geofisika Bandung terus mengkaji suara dentuman yang terdengar di Bandung Raya pada Sabtu dini hari melalui pemantauan gempa, petir, atmosfer, dan magnet bumi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
-
BMKG memperkuat pemantauan kegempaan, petir, atmosfer, dan magnet bumi untuk mengungkap sumber dentuman Bandung Raya.
-
Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mempercayai spekulasi mengenai penyebab dentuman yang belum terverifikasi.
-
Informasi resmi BMKG menjadi rujukan utama selama penyelidikan sumber suara dentuman masih berlangsung.
EKSPRESPOST.COM – Mengapa dentuman Bandung muncul ketika Gunung Anak Krakatau sedang mengalami erupsi menerus?
Apakah suara gemuruh dari Selat Sunda benar-benar dapat mencapai Bandung Raya?
Jika bukan gempa, petir, atau cuaca, dari mana sebenarnya dentuman tersebut berasal?
Dentuman Bandung Muncul Saat Anak Krakatau Mengalami Erupsi
Suara dentuman berulang dilaporkan terdengar di Bandung Raya sejak sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
Pada periode yang berdekatan, Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan aktivitas erupsi menerus di Selat Sunda.
Badan Geologi mencatat erupsi menerus Anak Krakatau terjadi mulai pukul 23.07 WIB pada 5 September 2026.
Erupsi tersebut disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain.
Kemunculan dua fenomena dalam waktu berdekatan kemudian memunculkan dugaan bahwa keduanya saling berkaitan.
Namun, BMKG menyatakan dugaan tersebut belum didukung bukti yang cukup dari data pemantauan.
BMKG Tidak Menemukan Gempa Sebagai Pemicu Dentuman Bandung
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan BMKG langsung memeriksa data kegempaan setelah menerima laporan masyarakat.
Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada aktivitas seismik di Bandung dan wilayah sekitarnya selama periode dentuman.
“Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat,” kata Suaidi.
Pemeriksaan tersebut juga mencakup aktivitas petir menggunakan Lightning Detector untuk melihat kemungkinan gangguan kelistrikan atmosfer.
“Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan,” ujar Suaidi.
Temuan tersebut membuat gempa dan aktivitas petir tidak dapat dijadikan penjelasan utama dentuman berdasarkan data BMKG.
Arah Angin Memperlemah Dugaan Suara Erupsi Mencapai Bandung
BMKG mencatat kondisi cuaca di Jawa Barat secara umum cerah ketika masyarakat melaporkan suara dentuman.
Arah angin juga konsisten bergerak dari timur menuju barat pada periode kejadian.
Kondisi tersebut dinilai memperkecil kemungkinan gelombang suara erupsi Anak Krakatau merambat menuju Bandung Raya.
Meski Anak Krakatau sedang aktif, BMKG belum menemukan bukti yang menghubungkan aktivitas vulkanik tersebut secara langsung dengan dentuman Bandung.
Sumber suara karena itu masih diduga berasal dari fenomena lain yang belum teridentifikasi secara pasti.
Anomali Sebesi Muncul Ketika Aktivitas Anak Krakatau Berlangsung
Instrumen BMKG di Pulau Sebesi mencatat anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB.
Catatan tersebut menjadi salah satu data penting karena waktunya berdekatan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, anomali tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa erupsi menjadi penyebab suara yang terdengar di Bandung.
Stasiun magnet bumi Sukabumi dan Serang juga merekam gangguan magnetik internal bumi pada periode 4 September hingga 5 September.
BMKG tidak menemukan aktivitas badai matahari yang berkaitan dengan gangguan magnetik tersebut.
“Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut,” ujar Suaidi.
Aktivitas Anak Krakatau Berlanjut, Pemantauan Bandung Diperketat
Badan Geologi menyatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga.
Pada 6 September, BMKG meningkatkan pemantauan terhadap erupsi dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kawasan Selat Sunda.
Sebaran abu vulkanik bahkan terpantau melingkupi sejumlah wilayah termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
BNPB melaporkan perkembangan abu vulkanik tersebut berdampak pada operasional beberapa bandara sebagai langkah keselamatan penerbangan.
Namun, perkembangan erupsi tersebut tetap berbeda dengan pertanyaan mengenai sumber dentuman Bandung yang belum terjawab.
BMKG terus memantau kegempaan, petir, atmosfer, dan magnet bumi sambil berkoordinasi dengan instansi terkait.
Masyarakat Bandung Raya diminta tetap tenang dan menjadikan informasi resmi sebagai rujukan utama.****
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.
01Apa inti peristiwa yang diberitakan dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…”?
Badan Geologi mencatat erupsi menerus Anak Krakatau terjadi mulai pukul 23.07 WIB pada 5 September 2026.
02Siapa pihak utama yang disebut dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…”?
BMKG Tidak Menemukan Gempa Sebagai Pemicu Dentuman Bandung Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan BMKG langsung memeriksa data kegempaan setelah menerima laporan masyarakat.
03Kapan peristiwa dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…” terjadi?
Dentuman Bandung Muncul Saat Anak Krakatau Mengalami Erupsi Suara dentuman berulang dilaporkan terdengar di Bandung Raya sejak sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
04Di mana peristiwa dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…” berlangsung?
Pada periode yang berdekatan, Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan aktivitas erupsi menerus di Selat Sunda.
05Mengapa perkembangan dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…” terjadi?
Catatan tersebut menjadi salah satu data penting karena waktunya berdekatan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
06Bagaimana proses atau peristiwa dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…” berlangsung?
Pemeriksaan tersebut juga mencakup aktivitas petir menggunakan Lightning Detector untuk melihat kemungkinan gangguan kelistrikan atmosfer. “Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan,” ujar Suaidi.
07Apa dampak yang disebutkan dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…”?
Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada aktivitas seismik di Bandung dan wilayah sekitarnya selama periode dentuman. “Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat,” kata Suaidi.
08Angka penting apa yang disebut dalam “BMKG Pastikan Dentuman Bandung Raya Bukan Gempa, Sumber Suara Masih Dikaji Setelah Muncul Berulang…”?
Anomali Sebesi Muncul Ketika Aktivitas Anak Krakatau Berlangsung Instrumen BMKG di Pulau Sebesi mencatat anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB.
Penulis Tim EkspresPost
Tim redaksi Ekspres Post menyajikan berita nasional, ekonomi, bisnis, politik, hukum, lifestyle, entertainment, sport, nusantara dan internasional dengan mengutamakan akurasi serta kepentingan pembaca.
