Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial
- account_circle Didik Fitrianto
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 15
- print Cetak

Aplikasi Ruang Digital Keluarga dibesut dalam rangka meningkatkan keadaban digital di keluarga. Ilustrasi IST. Photo
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
EKSPRESPOST.COM – Komisi I DPR RI bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kementerian Komdigi) memperkuat sinergi dalam mempromosikan etika bermedia digital guna menjaga kedaulatan serta menciptakan ruang siber yang aman, produktif, dan harmonis bagi masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam acara Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Etika Bermedia Digital” yang digelar secara daring pada Rabu (12/08/2026).
Anggota Komisi I DPR RI, Ruth Naomi Rumkabu, menyampaikan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat dalam menunjang komunikasi, pendidikan, pekerjaan, hingga pelayanan publik. Namun, pesatnya digitalisasi turut membawa tantangan serius seperti maraknya informasi bohong (hoaks), judi online, kebocoran data pribadi, ujaran kebencian, hingga polarisasi berbasis SARA.
Menurut Ruth, meski pemerintah telah menetapkan regulasi seperti UU ITE dan UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) sebagai payung hukum, benteng pertahanan utama tetap berada pada kesadaran etis masing-masing individu.
“Regulasi hadir sebagai rambu-rambu, namun benteng utama dalam menjaga ruang digital tetap berada pada kesadaran moral dan etika masing-masing pengguna. Masyarakat diimbau menerapkan prinsip ‘saring sebelum sharing’ demi menjaga persatuan bangsa,” ujar Ruth.
Ancaman Kejahatan Siber dan Perlunya Kolaborasi
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komdigi, Molly Prabawaty, menyoroti ancaman kejahatan siber yang kian kompleks seiring perkembangan teknologi, seperti deepfake, cyberbullying, penyingkapan data pribadi (doxing), hingga penipuan digital.
Molly menegaskan bahwa menciptakan ruang digital yang sehat memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat.
“Masyarakat harus menyadari jejak digital yang ditinggalkan. Bahasa yang santun, penghormatan terhadap privasi, serta kewaspadaan sebelum membagikan informasi adalah kunci utama,” tutur Molly sembari mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan penangkal hoaks.
Etika Pembuatan Konten dan Promosi Potensi Daerah
Dari sudut pandang praktisi, Praktisi Komunikasi Publik Yemima Marcela Msiren menguraikan manfaat positif media digital sebagai sarana promosi potensi daerah, budaya, pariwisata, hingga produk lokal, khususnya bagi generasi muda di Papua.
Namun, Yemima mengingatkan agar semangat berkreasi tidak mengabaikan privasi dan etika dasar. Ia menyoroti maraknya fenomena merekam atau mempublikasikan orang lain tanpa izin demi mengejar popularitas instan.
“Jangan sampai demi mendapatkan views, likes, atau sekadar viralitas, kita mengorbankan martabat dan privasi orang lain. Pikirkan matang-matang dampak dari setiap konten maupun komentar yang kita buat,” tegas Yemima.
Dalam kegiatan tersebut, disimpulkan bahwa etika bermedia digital merupakan tanggung jawab kolektif. Masyarakat diimbau untuk selalu menyaring informasi, menjaga data pribadi, menggunakan bahasa yang sopan, serta memanfaatkan teknologi secara produktif demi mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, sehat, inklusif, dan berbudaya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan tanya-jawab berdasarkan isi artikel.
01Apa fakta paling penting dari “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” yang perlu diketahui pembaca?
Anggota Komisi I DPR RI, Ruth Naomi Rumkabu, menyampaikan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat dalam menunjang komunikasi, pendidikan, pekerjaan, hingga pelayanan publik.
02Siapa pihak utama di balik peristiwa dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial”, dan apa perannya?
EKSPRESPOST.COM - Komisi I DPR RI bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kementerian Komdigi) memperkuat sinergi dalam mempromosikan etika bermedia digital guna menjaga kedaulatan serta menciptakan ruang siber yang aman, produktif, dan harmonis bagi masyarakat.
03Kapan peristiwa penting dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” terjadi atau dijadwalkan?
Hal tersebut mengemuka dalam acara Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Etika Bermedia Digital” yang digelar secara daring pada Rabu (12/08/2026).
04Di mana peristiwa dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” berlangsung dan mengapa lokasinya relevan?
Etika Pembuatan Konten dan Promosi Potensi Daerah Dari sudut pandang praktisi, Praktisi Komunikasi Publik Yemima Marcela Msiren menguraikan manfaat positif media digital sebagai sarana promosi potensi daerah, budaya, pariwisata, hingga produk lokal, khususnya bagi generasi muda di Papua.
05Mengapa perkembangan dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” terjadi dan apa alasan yang disebutkan?
Namun, Yemima mengingatkan agar semangat berkreasi tidak mengabaikan privasi dan etika dasar.
06Bagaimana peristiwa atau proses dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” berlangsung?
Masyarakat diimbau untuk selalu menyaring informasi, menjaga data pribadi, menggunakan bahasa yang sopan, serta memanfaatkan teknologi secara produktif demi mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, sehat, inklusif, dan berbudaya.
07Apa dampak utama “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” bagi publik atau pihak terkait?
Bahasa yang santun, penghormatan terhadap privasi, serta kewaspadaan sebelum membagikan informasi adalah kunci utama," tutur Molly sembari mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan penangkal hoaks.
08Berapa angka penting dalam “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” yang membantu memahami skala peristiwa?
Namun, pesatnya digitalisasi turut membawa tantangan serius seperti maraknya informasi bohong (hoaks), judi online, kebocoran data pribadi, ujaran kebencian, hingga polarisasi berbasis SARA.
09Apa konteks penting dari “Jangan Asal Viral, DPR dan Komdigi Ingatkan Pentingnya Privasi di Media Sosial” yang perlu dipahami pembaca?
Molly menegaskan bahwa menciptakan ruang digital yang sehat memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat. "Masyarakat harus menyadari jejak digital yang ditinggalkan.
- Penulis: Didik Fitrianto




