Sita 1/2 T di 12 Lokasi, Polri Beri Peringatan Keras Bagi Pihak Yang Halangi Penyidikan Jampidsus
- account_circle Didik Fitrianto
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Penyidik juga menggeledah restoran Cafe de'Clan Signature di Cipete, penggeledahan di kafe ini dikawal ketat oleh personel Brimob bersenjata. FILE/IST. Photo
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Telegraf – Kediaman Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, di Jalan Radio, Kramat Pela, Jakarta Selatan, mendadak dijaga ketat oleh puluhan personel TNI bersenjata laras panjang sejak Rabu (08/07/2026). Penjagaan ketat ini memicu sorotan publik karena berlangsung di tengah rangkaian penggeledahan besar-besaran yang dilakukan oleh tim gabungan Polri.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Muhammad Nas, mengonfirmasi bahwa penempatan personel militer tersebut merupakan respons atas permintaan resmi dari pihak Kejaksaan Agung. Kendati demikian, Nas menegaskan bahwa pengamanan ini murni prosedural dan tidak berkaitan dengan isu-isu lain yang tengah berkembang di masyarakat.
Menariknya, pengetatan pengamanan di rumah dinas sang jaksa bertepatan dengan operasi senyap Korps Bhayangkara. Pada hari yang sama, tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya menggeledah 12 lokasi strategis terkait kasus dugaan korupsi tata niaga batu bara. Dua di antaranya berada di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, relatif dekat dengan kediaman Febrie, yaitu Cafe de’Clan Signature dan Koin Money Changer. Dari operasi tersebut, polisi membekukan sejumlah ruangan dan menyita brankas berisi mata uang asing serta uang tunai senilai Rp67 miliar.
Rekam Jejak Penangan Kasus Kakap
Febrie Adriansyah bukanlah nama baru dalam peta penegakan hukum pidana khusus di Indonesia. Mengawali kariernya sebagai staf di Kejaksaan Negeri Sungai Penuh, Kerinci pada tahun 1996 setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Jambi, karier peraih gelar doktor dari Universitas Airlangga ini melesat lewat serangkaian posisi strategis.
Ia tercatat pernah memimpin Kejari Bandung, menjadi Aspidsus Kejati Jawa Timur, hingga menjabat Direktur Penyidikan (Dirdik) Jampidsus sebelum akhirnya resmi dilantik sebagai Jampidsus Kejagung pada tahun 2025. Di bawah kendalinya sebagai Dirdik, Kejaksaan Agung membongkar deretan kasus megakorupsi dengan nilai kerugian negara yang fantastis, antara lain adalah Korupsi PT Asuransi Jiwasraya, Korupsi PT Asabri, Kasus korupsi komoditas PT Timah, Korupsi BTS Kominfo, Kasus korupsi di PT BTN.
Di Antara Prestasi dan Kontroversi
Kendati dikenal garang meringkus koruptor, posisi Febrie belakangan berada di pusaran kontroversi. Pada Maret 2025, namanya dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Koalisi Sipil Masyarakat Antikorupsi, yang motori oleh IPW, KSST, MAKI, dan TPDI.
Febrie dituding terlibat dalam empat dugaan tindak pidana, yang meliputi penyalahgunaan wewenang dalam tata niaga batu bara di Kalimantan Timur, pencucian uang, serta kejanggalan dalam penanganan kasus suap Ronald Tannur dan korupsi Jiwasraya.
Sorotan terhadap sosoknya kian tajam seiring melonjaknya harta kekayaan yang dilaporkan ke negara. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK, kekayaan Febrie melompat signifikan dalam waktu singkat.
LHKPN 2022: Rp6,3 miliar, LHKPN 2023: Rp18,2 miliar (Meningkat hampir tiga kali lipat), LHKPN 2024 dan 2025: Stabil di angka Rp18,2 miliar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kejaksaan Agung belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan spesifik di balik pengajuan bantuan pengamanan ekstra dari TNI ke kediaman Jampidsus tersebut, di tengah tensi penegakan hukum yang sedang meninggi di ibu kota.
Diketahui, rangkaian penggeledahan yang dilakukan oleh tim gabungan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri bersama Ditreskrimsus Polda Metro Jaya berlangsung maraton selama kurang dari 24 jam sejak Rabu, 8 Juli hingga Kamis dini hari, 9 Juli 2026.
Operasi joint investigation skala besar ini menyasar 12 lokasi strategis di Jakarta dan sekitarnya, termasuk Bogor dan Tangerang. Penggeledahan difokuskan untuk mengumpulkan alat bukti atas kasus kakap yang saling berkelindan, dugaan korupsi pasokan batu bara untuk PLTU, yang sempat memicu blackout massal di Sumatera, suap dan gratifikasi perkara hukum PT Asabri-Jiwasraya periode 2020-2025, serta dugaan korupsi PT Krakatau Steel, juga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Berikut adalah detail poin penting serta temuan dari lokasi-lokasi utama penggeledahan:
Rumah Mewah di Sentul Kabupaten Bogor
Lokasi ini menjadi pusat temuan barang bukti paling fantastis. Penggeledahan yang berlangsung hingga Kamis dini hari (09/07/2026) di kawasan Parahyangan Golf 2, Sentul, berhasil membongkar sebuah brankas besar yang terkunci.
Penyidik menemukan 7 koper besar berisi aset bernilai tinggi di dalam brankas penyimpanan
Aset yang disita antara lain terdiri dari 74 kilogram emas batangan. Uang tunai asing sebesar USD 4.767.300 Dolar AS. Uang tunai asing sebesar SGD 14.083.800 Dolar Singapura dan uang tunai Rp100 juta.
Estimasi nilai total aset yang disita dari satu rumah di Sentul ini ditaksir mencapai Rp476 miliar. Polisi juga menyita ponsel, dokumen, serta foto keluarga untuk melacak identitas pemilik asli aset tersebut.
Cafe de’Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan
Penyidik juga menggeledah restoran Cafe de’Clan Signature di Cipete, penggeledahan di kafe ini dikawal ketat oleh personel Brimob bersenjata laras panjang sejak Rabu siang hingga malam. Target utama penyidik berada di lantai dua kafe yang difungsikan sebagai area kantor manajemen.
Di dalam tempat yang tersembunyi, polisi menemukan brankas setinggi dua meter yang sengaja disembunyikan secara terselubung di balik sebuah lemari. Aset yang disita antara lain, SGD 3.130.000 Dolar Singapura. USD 889.965 Dolar AS dan uang tunai Rp259.159.000.
Estimasi nilai jika dikonversikan, temuan di kafe ini bernilai hampir Rp60 miliar, adapun status lokasi di lantai dua yang menjadi kantor langsung dipasang status quo (dibekukan untuk penyidikan), sementara operasional restoran di lantai satu tetap diizinkan berjalan. Tiga karyawan kafe turut dibawa sebagai saksi.
Koin Money Changer di Cipete, Jakarta Selatan
Terletak tepat di samping Cafe de’Clan, tempat penukaran uang ini digeledah karena patut diduga kuat menjadi sarana atau pos perputaran uang dalam skema pencucian uang (money laundering).
Aset yang disita antara lain, uang tunai dari 16 jenis mata uang asing berbeda dengan total nilai setara Rp7,2 miliar, beserta 71 item barang bukti dokumen lainnya. Operasional money changer ini dihentikan total dan disegel oleh petugas.
9 Lokasi Lainnya di Jakarta dan Tangerang
Selain tiga lokasi utama di atas, tim gabungan juga menyisir kantor korporasi dan kediaman pribadi sejumlah figur yang terseret dalam pusaran kasus ini.
Antara lain yaitu, kantor swasta PT CBS di Cengkareng Timur, Jakarta Barat dan Penjaringan, Jakarta Utara, kantor PT KNI di Petojo Selatan, Jakarta Pusat, kantor DMG di Kuningan, serta kantor PT TML di Karet Kuningan, Jakarta Selatan.
Lalu ada juga kediaman pribadi, yaitu rumah mewah milik individu berinisial TK di kawasan elite Mega Kuningan, rumah berinisial DR di Gandaria Selatan, rumah berinisial MN di Tangerang Selatan, serta sebuah unit apartemen milik MILDK di Pacific Place, Jakarta Selatan.
Secara akumulatif, operasi kilat 24 jam ini berhasil mengamankan aset sitaan berupa emas batangan dan valuta asing senilai lebih dari Rp540 miliar. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, memperingatkan secara tegas bahwa siapa pun pihak yang mencoba menghalangi atau merusak barang bukti dalam penyidikan ini akan langsung dijerat hukum pidana berdasarkan Pasal 21 UU Tipikor (Obstruction of Justice).
- Penulis: Didik Fitrianto




