Wamendag Lepas Ekspor 3,5 Ton Salak Bali ke Tiongkok, Komitmen Dagang USD 2 Juta Mulai Direalisasikan
- account_circle Tim EkspresPost
- calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
- visibility 7
- print Cetak

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri/Doc/Ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Telegraf-Pelepasan ekspor yang berlangsung di The Keranjang Bali, Kabupaten Badung, menjadi langkah awal dari kerja sama dagang yang ditargetkan berlangsung selama satu tahun.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan keberhasilan ekspor tersebut membuktikan produk pertanian Indonesia mampu bersaing di pasar internasional apabila didukung kualitas yang baik dan akses pasar yang terbuka.
“Pelepasan ekspor 3,5 ton salak dari PT Bali Organik Subak ke Tiongkok merupakan bukti bahwa produk lokal Indonesia memiliki kualitas dan daya saing untuk menembus pasar internasional. Setiap upaya promosi dan diplomasi perdagangan harus bermuara pada transaksi yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan perekonomian nasional,” ujar Roro.
Ia mengungkapkan, Tiongkok kini menjadi pasar utama salak Indonesia. Jika pada 2024 negara tersebut masih berada di posisi ketiga tujuan ekspor, pada 2025 nilainya melonjak hingga mencapai USD 4,1 juta, menjadikannya pasar terbesar bagi komoditas salak nasional.
Menurut Roro, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa peluang ekspor produk Indonesia masih terbuka lebar seiring meningkatnya kualitas dan daya saing produk nasional.
Ia menegaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Pemerintah berperan membuka akses pasar melalui diplomasi perdagangan, sementara pelaku usaha menjaga standar kualitas agar mampu memenuhi kebutuhan pasar global.
“Bali memiliki potensi besar menjadi salah satu motor penggerak ekspor nasional. Selain pariwisata, Bali memiliki produk pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, fesyen, hingga kerajinan yang memiliki nilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar internasional,” katanya.
Roro berharap Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga menjadi etalase produk unggulan Indonesia yang mampu menembus pasar ekspor.
“Kami ingin membangun narasi baru bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata dunia. Bali juga harus dikenal sebagai etalase produk unggulan Indonesia sekaligus gerbang bagi lebih banyak produk nasional memasuki pasar global,” ujarnya.
Pendiri PT Bali Organik Subak, A.A. Gede Wedhatama P., mengatakan ekspor ke Tiongkok merupakan hasil nyata dari keikutsertaan perusahaan dalam Misi Dagang Indonesia ke Shanghai beberapa bulan lalu.
“Melalui misi dagang tersebut, kami dapat bertemu langsung dengan buyer, mencapai kesepakatan bisnis, dan akhirnya merealisasikan ekspor ke Tiongkok. Kami berharap program serupa terus diperluas ke Timur Tengah, Eropa, Australia, dan Amerika,” katanya.
Selain melepas ekspor salak, Wamendag Roro juga menghadiri Pengukuhan dan Pelantikan Dewan Pengurus Daerah Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali periode 2026–2031.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan ekspor menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Kementerian Perdagangan terus fokus pada tiga strategi utama, yakni menjaga pasar domestik, memperluas akses pasar ekspor, dan mencetak lebih banyak eksportir baru, khususnya dari kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia meningkat dari USD 231,71 miliar menjadi USD 282,91 miliar sepanjang periode 2021–2025, dengan tren pertumbuhan rata-rata 3,12 persen per tahun.
Sementara pada semester pertama 2026, nilai ekspor Indonesia telah mencapai USD 140,81 miliar, naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total tersebut, ekspor nonmigas masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD 134,58 miliar.
- Penulis: Tim EkspresPost





