Iran Beri Pertimbangan Khusus Bagi Kapal China Yang Lintasi Selat Hormuz
- account_circle Didik Fitrianto
- calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, pada 18 Juni 2026. REUTERS
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Telegraf – Pemerintah Iran memastikan akan memberikan perlakuan atau pertimbangan khusus kepada China dan negara sahabat lainnya terkait biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur perairan krusial bagi pasokan energi global tersebut kini ditetapkan sebagai zona kepentingan keamanan nasional oleh Teheran menyusul perang empat bulan melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, dalam Forum Perdamaian Dunia di Beijing, Sabtu (04/07/2026).
“Kami pasti akan memberikan pertimbangan khusus untuk China, karena China adalah negara sahabat. Perlakuan khusus harus kami berikan kepada negara-negara yang bersahabat dengan kami,” ujar Fazli tanpa merinci bentuk konsesi spesifik yang akan diberikan.
Pengaturan Baru Bersama Oman
Fazli menjelaskan bahwa pascakonflik, Iran bersama dengan Oman tengah menyusun pengaturan baru mengenai pengelolaan Selat Hormuz, termasuk dalam hal penentuan besaran dan jenis biaya layanan kapal.
Menurut Fazli, penarikan biaya tersebut ditujukan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran dan mengatasi biaya dampak lingkungan. Ia juga menegaskan bahwa penegakan aturan baru ini tidak akan bertentangan dengan hukum laut internasional.
Pertentangan dari AS dan Negara Teluk
Rencana penarikan biaya di Selat Hormuz ini memicu perdebatan internasional dan menjadi salah satu isu kontroversial dalam negosiasi perdamaian permanen. Amerika Serikat dan negara-negara Arab Teluk menentang keras langkah tersebut, dengan menegaskan bahwa Iran dan Oman tidak boleh mengenakan biaya apa pun untuk jalur air internasional itu.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa dilaporkan mulai menerima usulan penarikan biaya tersebut, dengan syarat tidak ada diskriminasi tarif berdasarkan kewarganegaraan kapal.
Sikap Diplomatik China
China, yang merupakan pembeli utama minyak bumi dari Iran, memilih bersikap hati-hati demi melindungi pasokan energinya dan mencegah guncangan ekonomi domestik. Melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, Beijing menyerukan agar arus pelayaran di Selat Hormuz tetap dibuka tanpa hambatan demi keuntungan semua pihak.
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia. Jalur pelayaran di kawasan ini dilaporkan baru mulai berangsur normal setelah penandatanganan perjanjian damai sementara pada bulan lalu.
- Penulis: Didik Fitrianto




